Kamis, 14 Februari 2013

Hal Yang Terpikir Setelah Merumpi


Beberapa hari lalu, tidak terlalu tepat jelasnya kapan, saya datang berkunjung ke kos senior saya ketika SMA yang sekarang kuliah di salah satu PTS Yogyakarta. Tidak ada tujuan khusus dari kunjungan saya ini, hanya sekedar silahturahmi dan mencari teman berbincang-bincang saja. Ketika telah berjumpa, kami langsung melakukan perbicaraan yang sederhana, menanyakan kabar masing-masing, masalah perkuliahan, sampai hal-hal yang tidak penting.
Tidak ada yang terlalu menarik perhatian saya sampai ketika senior saya itu dengan tidak saya mengerti mengutip ucapan temannya tentang kaidah ushul fiqih. Al aslu fi kulli syaiin baqaun ma kana ala ma kana illa dallla dalilun ala khilafihi. Saya menertejemahkan kaidah itu dalam bahasa Indonesia versi saya kira-kira adalah kondisi segala sesuatu akan tetap seperti aslinya kecuali ada petunjuk yang menunjukan perubahannya. Setidaknya, hingga saat ini begitulah terjemahan kaidah tersebut yang saya percayai.
Jika diingat-ingat, kaidah ushul fiqih itu adalah kaidah yang pertama kali saya pelajari ketika belajar ilmu ushul fiqih dulu. Ketika itu, jujur saya tidak tahu siapa  yang pertama kali menyampaikannya atau menjadikannya sebagai kaidah ushul fiqih. Lebih jujur lagi, kenyataan itu juga tetap tidak berubah sampai saat ini. Yang saya tahu, kelompok orang muslin yang menamai kelompok mereka sebagai ahlu sunnah wal jamaah adalah kolompok yang memegang teguh kaidah ini.
Kaidah ini berperan dalam ushul fiqih sebagai landasan awal untuk ber-ijtihad dalam agama. Kaidah ini adalah formula yang digunakan oleh ahli ijtihad atau mujtahid dalam proses pengambilan keputusan ijtihad. dulu, saya ingat ustadz yang mengjarkan kaidah ini kepada teman-teman dan saya bahwa ia memberikan contoh pemahaman dari kaidah ini, yaitu dengan mencerikatan sifat air. “suatu kala seorang pemuda mengambil air dari suatu sumber untuk dibawa ke rumah. Setibanya pemuda itu di rumah, tiba-tiba pemuda itu ragu apakah air yang ia ambil itu masih suci dan dapat digunakan untuk thaharah atau sudah tidak suci lagi?” kurang lebih sseperti itulah ustadz saya itu berkisah.
“karena pada dasarnya semua air dalam keadaan asalnya, yaitu suci dan dapat digunakan untuk thaharah. sesuai kaidah ushul fiqih al aslu baqaun ma kana ala ma kana illa dalla dalilun ala khilafihi, maka air yang pemuda ambil dan ragu atas kesuciannya itu masih suci. Tentu saja karena si pemuda itu tidak menemukan sesuatu yang merusak kesucian air.” Lanjut ustadz saya. Setelah puas berwisata ke alam kenangan itu,  saya masih terusik untuk terus mengulang-ulang kaidah ini di dalam benak saya tentunya. Seakan ada hal menarik lainnya yang dapat saya temukan dari kaidah ushul fiqih ini. Namun, tidak ada satu hal menarik pun yang keluar dari kepala walaupun saya telah mengulang-ulangnya.
Anehnya, beberapa hari setelah kejadian mengulang-ulang kaidah ushul fiqih tadi, saya kembali terusik untuk “membongkar” berkas-berkas ingatan saya yang memiliki kaitan dengan  kaidah itu. Tidak menenukan hal yang menarik untuk disampaikan atau dipikirkan, saya mencoba mengaitkan kaidah ini dengan beberapa fakta yang berkaitan dengan kaidah ini.  Karena saya suk sekali dengan Isaac Newton, maka saya mencoba menebak-nebak dan mencocok-cocokkan beberapa hal tentang kaidah ushul fiqih dan Isaac Newton. Hasilnya?
Bukankah teori Newton I berbunyi, “benda diam akan mempertahankan posisi diamnya sedangkan benda yang bergerak akan mempertahankan geraknya kecuali ada resultan gaya yang dikerjakan pada benda tersebut sehingga menjadi bergerak atau diam”. Sedangkan kaidah ushul fiqih “al aslu baqaun ma kana ala ma kana illa dalla dalilun ala khilafihi” memiliki persamaan. Saya tidak berniat menyama-nyamakan antara teori Newton I dengan kaidah ushul fiqih ini. Akan tetapi, karena dipaksa oleh rasa penasaranku sendiri, saya mencoba mencari infomasi terkait dengan kondisi ini. Satu-satunya fakta yang dapat saya sampaikan adalah Imam Syafii, bapak ushul fiqih yang diakui jumhur ulama muslim hidup pada tahun 767-819 Masehi sedangkan Isaac Newton hidup pada masa 1643-1727 Masehi. Tentu saya tidak berani mengatakan jika teori Newton I ini dipengaruhi oleh kaidah ushul fiqih islam atau sebaliknya karena belum ada data akurat. Namun?

0 komentar:

Posting Komentar

Terimakasih Telah Berkomentar