Kamis, 14 Februari 2013

Yang Saya Lihat Tentang Perempuan Berjilbab



Membicarakan tentabg jilbab, sebagai laki-laki saya akan sangat mengaku tidak mengerti sama sekali tentang salah satu item busana wajib perempuan–seharusnya. Saya selalu penasaran bagaimana sebenarnya pandangan perempuan-perempuan sendiri jaman sekarang tentang jilbab. Tidak. Saya penasaran mengapa masih banyak perempuan yang tidak berjilbab dan saya tidak membahasnya disini, toh saya tidak akan pernah memakainya. Seseungguhnya, saya menaruh hormat pada perempuan yang menggunakan jilbab dalam kesehariannya. Tentu saja saya menghormatinya, soalnya seandainya saya terlahir sebagai perempuan, saya tidak dapat memastikan akan menggunakan jilbab “seutuhnya”.
          
  Melihat perempuan yang berjilbab, izinkanlah saya membaginya menjadi dua kelompok besar. Maaf sebelumnya, saya akan meneruskannya walau seandainya ada yang keberatan tentang pengelompokan saya terhadap perempuan berjilbab. Baik dan buruk manusia tidak ada yang berhak menilainya kecuali Sang Pencipta, oleh karena itu saya tidak melakukannya. Saya mengelompokkan perempuan berjilab berdasarkan adanya kemungkinan saya berjabat tangan dengannya. Yah, dalam islam ada beberapa paham tentang berjabat atau bersentuhan tangan antara lelaki dan perempuan yang tidak muhrim. Akan tetapi, saya mengikuti paham yang tidak mempersalahkan berjabat tangan antar jenis. Tujuan pengelompokan ini adalah dapat membantu menentukan boleh tidaknya berjabat tangan dengan seorang perempuan. Bukan untuk tujuan lainnya. Hehehe
            Pertama, perempuan yang menggukan jilbab yang modis atau up to date, seperti model jilbab yang sehelai kemudian dililit-lilitkan atau apalah istilahnya saya tidak terlalu paham. Untuk perempuan dengan tipe berjilbab seperti ini, menurutku kesempatan untuk “boleh” berjabat tangan dengannya sekitar 73%. Cukup besar. Kedua, perempuan yang menggunakan jilbab segitiga dan kemudian menyilangkan/mengangkat bagian ujung depannya ke pundak. Jika saya berapa dalam kondisi atau momen berjabat tangan, saya tidak akan ragu untuk meraih tangannya dan berjabat tangannya dengan akrab. Tanpa ragu. 84% perempuan berjilbab tipe ini tidak akan keberatan untuk berjabat tangan.
            Ketiga, perempuan yang tidak mengotak-atik cara berjilbabnya, membiarkan jilbabnya dalam mode default atau menggunakan jilabab yang simpel. Saya pastikan cara saya bersalaman, mengucapkan terimakasih adalah dengan menyedekapkan kedua tangan saya di depan dada dan sebaris senyum. Saya akan sungkan untuk berjabat tangan dengan tipe perempuan ini. Bukan apa apa. Saya melakukan hal tersebut karena saya menyakini bahwa hanya 93.4% perempuan seperti ini akan keberatan jika berjabat tangan dengan lawan jenis.
            Demikian tulisan saya yang sangat subjektif tentang jilbab. jika ada hal-hal yang tidak anda setujui bolehlah kita mendiskusikannya.
           
           

6 komentar:

ady mengatakan...

Gak Juga Bro
Yang versi ke Tiga sering saya temui dan semuanya mau berjabat tangan

Mungkin karena Agan kurang beruntung saja

muhammad hari maulana mengatakan...

hahahaha iyah gan.
ini kan masih subjektif terhadap ane sendiri.
berarti agan beruntung banget yah.
:)

491L_faisal_124HM4N mengatakan...

bener banget tu bro.,.

Anonim mengatakan...

Islam itu sempurna banget,..!
saking sempurnanya...
kok ribet banget,..!
orang islam dewe mumet mikirno..!
he he he ..!
yo jilbab itu gawe nutupin
gae mbungkus,..
ben orah rusuh, orah kotor. piss gan,..

taka jode mengatakan...

jilbab ngk wajib klo d quran..
klo ikut sunni baru wajib..
klo d quran jilbab disuruh dimasukin ke saku aja..ila juyuubihunna
alias ngk usah pake

muhammad hari maulana mengatakan...

wah, gan.
ekstrim banget kalo begitu...
ila juyuubihunna emang artinya ke saku mereka.
tapi bukan dimasukin,
masa iya wanita cuman disuruh bawa-bawa jilbab cuman untuk dimasukin ke saku?
:)

Posting Komentar

Terimakasih Telah Berkomentar