Minggu, 21 April 2013

Opini yang Lahir dari Perbincangan Ringan



Beberapa hari lalu, tidak terlalu tepat jelasnya kapan, saya datang berkunjung ke kos senior saya ketika SMA yang sekarang kuliah di salah satu PTS Yogyakarta. Tidak ada tujuan khusus dari kunjungan saya ini, hanya sekedar silahturahmi dan mencari teman berbincang-bincang saja. Ketika telah berjumpa, kami langsung melakukan perbicaraan yang sederhana, menanyakan kabar masing-masing, masalah perkuliahan, sampai hal-hal yang tidak penting.
Tidak ada yang terlalu menarik perhatian saya sampai ketika senior saya itu dengan tidak saya mengerti mengutip ucapan temannya tentang kaidah ushul fiqih. Al aslu fi kulli syaiin baqaun ma kana ala ma kana illa dallla dalilun ala khilafihi. Saya menertejemahkan kaidah itu dalam bahasa Indonesia versi saya kira-kira adalah kondisi segala sesuatu akan tetap seperti aslinya kecuali ada petunjuk yang menunjukan perubahannya. Setidaknya, hingga saat ini begitulah terjemahan kaidah tersebut yang saya percayai.

Meragukan Lalu Maragakan Islam



Pernahkah sobat merasa atau berpikir atau ragu atau terheyak atau terbisikkan bahwa ada sesuatu di dalam agama Islam yang mengganggu benak dan pikiran? Sesuatu yang mengganggu itu bisa saja bernama keraguan atau pertanyaan-pertanyaan yang mempertanyakan “kebenaran” Islam. Kondisi dimana dari dulu hingga sekarang keyakinan terhadap Islam tidak tergoyahkan dan “seakan” bertambah kadarnya. Saya pernah ingin bertanya alasan orang-orang yang berpindah agama. Saya ingin bertanya kepada mereka kejadian atau pengalaman  yang terjadi sehingga orang-orang itu dapat yakin untuk merubah kepercayaan awal mereka.
            Jujur, ketika saya duduk di bangku kelas 3 sebuah MTs, meragukan kebenaran Islam sebagai sebuah agama yang akan saya pegang di dalam hidup. Apakah saya akan murtad? Itu adalah pertanyaan yang terus ditanyakan diri saya kepada diri saya. Sebenarnya, keraguan saya dirangsang oleh pelajaran Ilmu Tauhid yang dipelajari di kelas. suatu saat di tengah pelajaran, si guru berkata, “kalian, beragama-islam-lah yang benar, jangan ber-islam karena  orang tua kalian beragama islam”. Kalimat ini sangat mempengaruhi aku.
      

Selamat Hari Kartini



Selamat Hari Kartini untuk seluruh wanita Indonesia. Saya pikir, ibu Kartini pasti dijadikan sosok panutan bagi wanita modern Indonesia karena beliau dikenal sebagai wanita yang menginisiasikan dan memperjuangkan kesamaan gender di Indonesia. ibu Kartini menyampaikan keluh kesahnya dalam surat-surat yang ia kirimkan kepada teman wanita belandanya. Dalam surat-surat itu menuliskan bahwa wanita Indonesia “terkekang” oleh adat dan kebiasaan kuno yang melarang wanita saat itu untuk melakukan apa-apa yang dianggap bukan pekerjaan atau tugas wanita. Seolah-olah saat itu segala aktivitas dibagi menjadi “tugas pria” dan “tugas wanita”. Seorang wanita tidak boleh mengerjakan apapun dari tugas pria dan sebaliknya. Akan menjadi sangat tabu jika kebiasaan ini dilanggar.